Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Ombak Lampuuk, Jeram Alas, hingga Puncak Leuser: Menjelajah Tiga Wajah Alam Aceh
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehHeadline

Ombak Lampuuk, Jeram Alas, hingga Puncak Leuser: Menjelajah Tiga Wajah Alam Aceh

Share
Puncak Gunung Leuser tampak dari kejauhan. FOTO : www.gunungbagging.com
Share

POPULARITAS.COM – Aceh punya banyak cara untuk memikat. Di pesisir baratnya, ombak Samudra Hindia bergulung ke pasir putih. Di pedalaman tenggaranya, sungai terpanjang di provinsi ini mengalir deras membelah hutan hujan. Dan jauh di atas, puncak-puncak berkabut menjulang menjadi atap Sumatra bagian utara.

Laut, sungai, dan gunung. Tiga lanskap ini menawarkan pengalaman yang berbeda, namun sama-sama meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang datang.

Pantai: Lampuuk yang Bangkit dari Tsunami

Perjalanan dimulai dari Pantai Lampuuk di Gampong Meunasah Masjid, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Letaknya sekitar 15 hingga 20 kilometer dari Banda Aceh, di sisi jalan menuju Calang, Aceh Jaya.

Pantai Lampuuk, destinawi favorit saat libur lebaran. Poto : Fauzan | popularitas.com.

Begitu tiba, pasir putih yang halus langsung terasa hangat di telapak kaki. Air lautnya berwarna biru kehijauan, berkilau di bawah sinar matahari. Bukit-bukit hijau dan pohon cemara mengelilingi garis pantai sepanjang sekitar lima kilometer yang membentuk teluk kecil.

Ombaknya datang besar, langsung dari Samudra Hindia. Suaranya menggelegar saat pecah di bibir pantai, menebar buih putih dan percikan asin yang terbawa angin. Bagi peselancar, ombak ini adalah undangan. Bagi pengunjung lain, tersedia banana boat dan ski air.

Menjelang senja, aroma ikan bakar mengepul dari warung-warung di tepi pantai, berpadu dengan segarnya air kelapa muda yang diseruput langsung dari batoknya. Langit perlahan berubah jingga, dan matahari tenggelam di garis cakrawala.

Keindahan ini menyimpan kisah ketangguhan. Pada Desember 2004, tsunami meluluhlantakkan kawasan Lampuuk, menghancurkan fasilitas wisata, penginapan, hingga rumah warga. Kini, pantai ini telah bangkit dan kembali menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Aceh.

Di kawasan Babah Dua, ada pula lokasi konservasi penyu. Pada waktu-waktu tertentu, pengunjung bisa menyaksikan tukik dilepas ke laut, atau melihat bayi-bayi penyu berenang di kolam penampungan.

Sungai: Menantang Jeram di Jantung Leuser

Dari pesisir, perjalanan bergerak ke pedalaman, menuju Ketambe di Kabupaten Aceh Tenggara. Di sinilah Sungai Alas, sungai terpanjang di Aceh, mengalir membelah kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Udara di Ketambe terasa lembap dan sejuk. Suara arus sungai terdengar menderu dari kejauhan, bersahutan dengan kicau burung dan dengung serangga hutan.

Arung jeram menjadi cara terbaik menikmati Sungai Alas. Arusnya bervariasi, dari yang sedang hingga menantang. Saat perahu karet menghantam jeram pertama, air dingin menyiram wajah dan tubuh, jantung berdebar kencang, dan teriakan spontan pecah di antara deru air.

Romi sedang memandu wisatawan arung jeram di Sungai Alas, Ketambe, Aceh Tenggara, Aceh. Foto: Metrotvnews.com/Fajri Fatmawati

Namun, di sela jeram, sungai kembali tenang. Di momen itulah mata bisa menyapu tepian: rangkong yang terbang melintas, monyet yang bergelantungan, bahkan orangutan liar yang kerap terlihat di sepanjang aliran sungai.

Rute disesuaikan dengan kemampuan peserta, termasuk bagian yang tenang dan aman bagi pemula. Bagi yang ingin pengalaman lebih panjang, tersedia paket dua hingga tiga hari dengan bermalam di tepi sungai.

Romi Sahbudin Putra, pemandu arung jeram asal Ketambe, seperti dikutip Metro TV, menyebut rasa takut tamu biasanya berubah menjadi kekaguman setelah melewati jeram pertama. Meski begitu, ia menegaskan, “Keselamatan itu nomor satu.”

Kualitas sungai di Aceh Tenggara bahkan sudah diakui di tingkat nasional. Kabupaten ini menjadi tuan rumah cabang olahraga arung jeram pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh–Sumut 2024.

Gunung: Jalur Terpanjang Menuju Atap Aceh

Perjalanan berpuncak di Gunung Leuser, gunung yang menjadi nama sekaligus jantung salah satu kawasan hutan hujan terpenting di dunia.

Gunung ini punya tiga puncak: Leuser, Loser, dan Puncak Tanpa Nama. Yang terakhir merupakan titik tertinggi dengan ketinggian 3.455 meter di atas permukaan laut, sekaligus puncak tertinggi kedua di Sumatra setelah Gunung Kerinci.

Mendakinya bukan perkara singkat. Dari titik awal yang direkomendasikan di Kedah, jarak menuju puncak mencapai sekitar 51 kilometer, dengan waktu tempuh tujuh hingga 11 hari. Jalur ini dikenal sebagai salah satu jalur pendakian terpanjang di Indonesia.

Hari-hari pertama dihabiskan menembus hutan rapat. Akar-akar besar melintang di jalur, tanah basah melekat di sepatu, dan aroma dedaunan lembap menyelimuti setiap langkah. Semakin tinggi, pepohonan menipis, udara kian dingin menusuk tulang, dan kabut kerap turun menyelimuti punggungan.

Puncak Gunung Leuser tampak dari kejauhan. FOTO : www.gunungbagging.com

Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser menjadi rumah bagi sekitar 4.000 jenis tumbuhan, termasuk Rafflesia arnoldidan bunga bangkai. Di dalamnya hidup lebih dari 80 spesies mamalia dan lebih dari 300 spesies burung, termasuk satwa dilindungi seperti gajah sumatera, harimau sumatera, dan rangkong badak.

Keindahan itu memikat bahkan mereka yang telah menjelajah hutan-hutan dunia. Ziva Justinek, lulusan University of Ljubljana, Slovenia, yang pernah membantu penelitian perilaku siamang di hutan Leuser, mengaku terpesona.

“Saya mengunjungi banyak hutan di dunia, tetapi Leuser paling indah,” ujarnya, seperti dikutip Good News From Indonesia. “Saya berharap Leuser terus dipertahankan karena ini adalah paru-paru dunia.”

Bagi para pendaki, berdiri di puncak setelah lebih dari seminggu berjalan adalah pengalaman yang sulit dilukiskan. Hamparan awan terbentang di bawah kaki, dan hutan Leuser terlihat seperti lautan hijau tanpa ujung.

Zulkarnaini, yang pernah menempuh perjalanan menuju puncak Leuser, masih mengingat pemandangan itu. “Hutan lebat nan hijau yang disalup awan sangat menawan,” kenangnya.

Perjalanan itu juga menguji ketahanan. “Dari Kedah membutuhkan waktu sekitar 13 hari pergi pulang menuju puncak Leuser,” tuturnya.

Menjaga Tiga Wajah Alam

Lampuuk, Sungai Alas, dan Gunung Leuser hanyalah sebagian kecil dari kekayaan alam Aceh. Masih banyak pantai, sungai, dan gunung lain yang menunggu dijelajahi di setiap kabupaten.

Namun, keindahan ini juga rapuh. Sampah plastik di pantai, pencemaran sungai, dan perambahan hutan menjadi ancaman nyata. Wisatawan bisa ikut menjaga dengan cara sederhana: membawa pulang sampah sendiri, tidak mengganggu satwa liar, menggunakan pemandu lokal yang berizin, dan selalu mengutamakan keselamatan.

Dari bibir samudra hingga puncak berkabut, alam Aceh menawarkan lebih dari sekadar pemandangan. Ia menawarkan pelajaran tentang ketangguhan, keberanian, dan kerendahan hati di hadapan alam.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Sore yang Riuh di Geunang Geudong: Kopi Aceh, Mi Rempah, dan Danau di Pinggir Meulaboh

POPULARITAS.COM – Deru kendaraan dan hiruk-pikuk Kota Meulaboh perlahan tertinggal di belakang....

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Sejuk yang Rapuh di Mata Ie: Dari Hulu Sungai Istana hingga Keran Ribuan Rumah

POPULARITAS.COM – Begitu kaki dicelupkan, dinginnya langsung menjalar hingga ke tulang. Air...

Senja Jingga di Pantai Pelangi, Ruang Rekreasi Murah Meriah Warga Sigli
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Senja Jingga di Pantai Pelangi, Ruang Rekreasi Murah Meriah Warga Sigli

POPULARITAS.COM – Terik matahari mulai mereda, Senin sore, 2 November 2026. Di...