POPULARITAS.COM – Jalur pergerakan gajah liar di Aceh diduga mengalami perubahan pascabencana hidrometeorologi yang terjadi akhir November 2025 lalu. Sejumlah wilayah yang sebelumnya tidak pernah dilaporkan menjadi lintasan gajah, kini mulai muncul laporan keberadaan satwa tersebut dari masyarakat.
Project Leader Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI), Ian Muhammad Hilman, mengatakan pihaknya saat ini tengah melakukan kajian ulang dan pemantauan lapangan untuk memastikan perubahan pola pergerakan gajah.
“Pasca bencana, ada beberapa lokasi yang sebelumnya tidak ada laporan kehadiran gajah, namun kini mulai bermunculan informasi dari masyarakat. Ini sedang kami kaji ulang melalui monitoring lapangan,” kata Ian, dilansir AJNN, Jumat, (17/4/2026).
Menurutnya, tim juga sedang mengupayakan pemasangan GPS collar atau kalung pelacak berbasis satelit pada gajah liar guna memantau pergerakan terbaru.
“Untuk melihat apakah terjadi perubahan jalur pascabencana. Ini yang sedang kami dalami,” ujarnya.
Dalam upaya konservasi, PECI melibatkan berbagai pihak, termasuk perusahaan seperti PT Tusam Hutani Lestari yang turut mendukung penyediaan kawasan konservasi.
Selain melakukan monitoring rutin, tim juga menjalankan mitigasi konflik antara manusia dan gajah melalui patroli bersama masyarakat. Hal ini dilakukan karena masih ditemukan gajah yang masuk ke wilayah permukiman.
Upaya konservasi juga diiringi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui kegiatan berbasis lahan, seperti agroforestri, agar masyarakat tetap memperoleh penghasilan tanpa meningkatkan potensi konflik dengan satwa.
Sementara itu, Ketua Forum PECI, Sri Wahyuni, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam penanganan konflik gajah.
Ia mengatakan, masyarakat perlu memahami standar operasional prosedur (SOP) saat menghadapi gajah yang masuk ke permukiman, serta memilih komoditas pertanian yang tidak disukai satwa tersebut.
“Kita dorong masyarakat untuk memahami SOP dan memilih komoditas yang tidak menarik bagi gajah, sehingga konflik bisa diminimalkan,” ujarnya.
Ia mencontohkan, tanaman seperti pinang cenderung disukai gajah sehingga sebaiknya dihindari, dan diganti dengan komoditas lain yang lebih aman.
Selain itu, pendekatan berbasis kearifan lokal juga dinilai penting, mengingat masyarakat Aceh pada masa lalu telah hidup berdampingan dengan gajah yang dikenal dengan sebutan Po Meurah.
Di sisi lain, Ketua Pusat Riset Kopi dan Kakao Universitas Syiah Kuala, Abubakar, menyebutkan populasi gajah di Indonesia diperkirakan sekitar 1.200 ekor, dengan sekitar 600 ekor berada di Aceh.
Populasi tersebut tersebar di sejumlah wilayah, seperti Aceh Selatan, Pidie, dan Gayo Lues, termasuk dalam lanskap Peusangan yang mencakup beberapa kabupaten.
Ia menambahkan, secara umum koridor pergerakan gajah di Aceh masih saling terhubung, termasuk wilayah Pidie yang memiliki keterkaitan dengan lanskap Peusangan











Leave a comment