POPULARITAS.COM – Tujuh Kubah klasik berwarna hitam, tampak kokoh seakan menjangkau lngit berwarna biru terang dipusat Kota Banda aceh. Kubah ditopang oleh pilar bangunan berwarna putih semakin menunjukkan kegagahan bangunan dengan usia cukup tua itu.
Ini adalah bangunan Masjid raya Baiturrahman, tak hanya sekedar tempat ibadah umat muslim di Banda aceh khususnya, tapi juga menjadi ikon sejarah dan kebanggaan masyarakat Aceh, sekaligus menjadi magnet wisata religi yang memikat wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Bangunan yang berdiri di areal yang dahulu dinamai Bustanussalatin ini dibangun oleh Penguasa Aceh, Sultan Iskandar Muda periode kuasa 1607-1636, pada tahun 1612 M.
Dalam sejarahnya, masjid ini sempat dibakar seorang jenderal asal Belanda Bernama Van Swieten, yang memimpin serangan ke Aceh.
Peletakan batu pertama pembangunan kembali masjid ini dilakukan pada 9 Oktober 1879 oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Pembangunan Masjid Raya Baiturrahman selesai pada 27 Desember 1881 dan diresmikan saat itu juga. Sejak diresmikan, tidak sedikit rakyat Aceh yang menolak untuk beribadah di masjid ini karena dibangun oleh Belanda.
Lantas masjid ini dibangun kembali dengan mengadopsi arsitektur dari sejumlah negara Islam. Terutama Turki. Sejumlah renovasi yang dilakukan di Masjid Raya Baiturrahman tidak menghilangkan ciri khas masjid yang dibangun usai dibakar oleh Belanda.
Dari kejauhan, masjid ini memang terlihat megah. Saat dibangun pertama kali, masjid ini hanya memiliki satu kubah besar yang saat ini menjadi kubah utama.
Lantas pada 1935, Masjid Raya Baiturrahman diperluas dengan menambahkan dua kubah di sisi kiri dan kanan. Penambahan kubah terus dilakukan hingga saat ini masjid yang menjadi ciri khas Banda Aceh itu memiliki tujuh kubah.
Kubah-kubah ini disangga oleh tiang kokoh berkelir putih. Di bagian atap tergantung sejumlah lampu hias yang melengkapi sejumlah ornamen yang menutupi sebagian tiang dan dinding. Saat ini, seluruh lubang angin di masjid itu ditutupi dengan kaca karena Pemerintah Aceh melengkapi masjid dengan pendingin udara.
Masjid Raya Baiturrahman berdiri di lahan seluas lebih dari 30 ribu meter per segi. Sementara total luas bangunan masjid mencapai 4.000 meter per segi. Masjid ini mampu menampung hingga puluhan ribu jamaah.

Memasuki era modern, pada tahun 2017, Masjid Raya Baiturrahman tampil semakin menawan setelah direnovasi. Gubernur Aceh Zaini Abdullah merombak halaman masjid ini. Hamparan rumput berganti dengan lantai granit lengkap dengan payung raksasa, mirip dengan payung di halaman Masjid Nabawi. Di bawah hamparan granit putih itu, dibangun areal parkir dan tempat wudhu.
Kehadiran payung-payung ini memberikan kesejukan dan kenyamanan bagi para jamaah maupun wisatawan yang berkunjung, terutama saat matahari menyengat terik siang hari.
“Banyak wisatawan yang datang, termasuk dari mancanegara, sebagian datang bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga ingin melihat langsung bangunan yang tetap berdiri kokoh di tengah kehancuran tsunami, sekaligus mengenang peristiwa bersejarah itu,” kata Kepala UPTD Masjid Raya Baiturrahman, Saifan Nur, pada Minggu (19/10/2025).
Selain menjadi pusat spiritual, masjid ini juga mencerminkan identitas masyarakat Aceh yang dikenal religius. Di provinsi yang menerapkan Syariat Islam secara resmi ini, nilai-nilai keislaman menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari mulai dari ibadah, muamalah, hingga moralitas sosial.
Karena itu, mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya sekadar menyaksikan keindahan arsitektur atau mengambil foto kenangan, tetapi juga meresapi makna keteguhan, iman, dan kebersamaan yang hidup di dalamnya.
Bagi siapa pun yang berencana berkunjung ke Aceh, Masjid Raya Baiturrahman adalah destinasi yang wajib disinggahi. Di tempat inilah, keindahan berpadu dengan sejarah, dan ketenangan berpadu dengan nilai-nilai luhur yang menjadikan Aceh tetap teguh berdiri seperti masjid kebanggaan mereka.
Dan bangunan ini pula yang menjadi saksi serta menjadi penyelamat ribuan jiwa warga banda aceh dan sekitarnya saat becana dahsyat tsunami melanda Aceh tahun 2004.











Leave a comment