POPULARITAS.COM – Bunga bank di Indonesia sangat tinggi. Kondisi itu sebabkan ekonomi di negara ini sulit tumbuh. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, net interest margin (NIM) di Republik ini sangat tinggi sekali.
Kondisi itu disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, pada acara economic outlook di Graha CIMB Niaga Jakarta, Kamis (12/2/2026).
“Jika bisa saya katakan, Bunga bank di Indonesia ini tertinggi di dunia dan akhirat,” katanya.
Pernyataan tersebut merespons kondisi di mana Bank Indonesia (BI) telah beberapa kali menurunkan BI Rate, tetapi bunga kredit di level perbankan masih relatif tinggi. Situasi ini memunculkan kesan adanya kesenjangan antara kebijakan moneter di tingkat otoritas dan implementasinya di sektor riil.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rata-rata NIM industri perbankan tercatat sebesar 4,56% pada Desember 2025, turun dari 4,62% pada Desember 2024. Meski demikian, NIM sejumlah bank besar masih berada di kisaran 5% hingga 6%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat yang rata-rata NIM-nya sekitar 2% hingga 3%, serta Australia yang berada di kisaran 2%.
Purbaya mencermati, perbankan Indonesia masih menganut struktur oligopolis sehingga dorongan untuk menurunkan tingkat bunga bank berjalan lambat. Kondisi itu juga yang menyebabkan NIM atau margin bunga bersih perbankan tergolong tinggi.
“Kalau saya lihat sebagai ekonom ya, struktur perbankan kita cenderung oligopolis. Ya harusnya bank sentral yang mengatur itu. Saya enggak tahu bagaimana caranya. Tetapi harusnya ada cara untuk menurunkan seperti itu,” sebutnya.
Meski mengkritisi struktur pasar, Purbaya menilai kondisi mulai menunjukkan perbaikan setelah BI menurunkan suku bunga acuan. Ia menekankan bahwa transmisi kebijakan moneter ke sektor riil memang membutuhkan waktu.
“Yang jelas begini, kebijakan moneter ke sektor riil, ke perbankan itu ada delay. Saya enggak tahu bisa berapa lama delay-nya. Tetapi kalau ke ekonomi, saya lihat walaupun perbankan yang mengatur bunga, empat bulan itu sudah terlihat perbaikan arah ekonominya gara-gara bank sentral menurunkan bunga,” ujarnya.
Sebagai bendahara negara, Purbaya juga memastikan likuiditas di pasar tetap terjaga agar ruang penurunan suku bunga semakin terbuka. Ia menjelaskan, meski terdapat penarikan dana segar Rp 70 triliun dari perbankan, dana tersebut kembali masuk ke sistem melalui berbagai program pembangunan pemerintah.
“Kita pastikan likuiditas cukup di pasar. Jadi harusnya ruang ke arah bunga yang lebih rendah akan terbuka lagi,” tandas Purbaya.










Leave a comment