POPULARITAS.COM – Dibalik sorotan lampu LED dan arsitektur modern di Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), hadir dengan konsep berbeda. Perpaduan teknologi dan kearifan lokal, jadi pembeda penampilan booth regulator minyak bumi dan gas di provinsi ujung barat Sumatra tersebut.
Booth BPMA yang hadir di acara itu, jadi pembeda dengan booth banyak peserta yang hadir. Meski ornamen dikemas dengan perpaduan LED, namun, nuasa kearifan lokal tampak khas dari keseluruhan penampilan Booth BPMA di IPA Convex 2026.
Berdiri kokoh di Hall A, dengan nomor Booth A-12, BPMA tak hanya hadirkan nuasa lokal, namun ikut membawa berbagai produk UMKM khas Aceh, serta menyajikan kopi arabica gayo yang terkenal di seantero dunia itu.
Inilah Booth Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) digelaran Indonesian Petroleum Association Convex (IPA Convex) 2026—pertemuan terbesar para pelaku industri minyak dan gas nasional dan bahkan di Asia Tenggara.
Booth BPMA yang hadir di IPA Convex 2026, bukan sekedar pajangan, tapi bentuk penegasan sebagai indentitas budaya dan sekaligus pernyataan serius tentang visi baru industri minyak bumi dan gas di Aceh.

Perpaduan teknologi dan kearifan lokal, sebagai penyatuan modernisasi dan tradisi sebagai dua kutub yang bisa berjalan beriringan.
“Booth BPMA ini, sebagai penegasan kita bahwa, BPMA bukan sekedar regulator mengawasi operasional perusahaan migas, namun lebih dari itu, tentang perspektif pengelolaan migas yang tetap mengakar pada tradisi lokal,” kata Kepala BPMA, Nasri Djalal kepada popularitas.com, Rabu 20 Mei 2026.
Kalimat yang diucapkan Nasri itu bukan retorika. Hal tersebut juga tercermin dari kepemimpinannya di BPMA kurun waktu 16 bulan terakhir.
Sejak dilantik sebagai Kepala BPMA pada 2025 lalu, Nasri memang telah menancapkan tekad bulat, menjadikan sektor minyak bumi dan gas, beri kemanfaatan luas bagi rakyat tanpa menggerus akar dan tradisi khas masyarakat Aceh yang relijius.
“BPMA ini menunjukkan pembedaan, yakni, Aceh punya cara tersendiri,” tambah Nasri.
Bagi Nasri, penampilan Booth BPMA bukan sekedar memajangkan teknologi pemrosesan minyak bumi dan gas semata, tapi ini tentang membangun masa depan energi yang tetap mengakar pada budaya dan kearifan lokal. “BPMA well educated pada inovasi global, tapi akar budaya jangan ditinggalkan,” tandasnya.
Masih kata Nasri, kehadiran booth BPMA, dengan penerapan ornamen ukiran khas Aceh, seperti motif Pinto Aceh dan sulur bunga, bagian dari penegasan bahwa, pihaknya tidak hanya hadir sebagai regulator migas, tapi juga duta kearifan lokal. “BPMA ini sampaikan pesan bahwa, tradisi dan modernisasi bisa hidup berdampingan dan saling menguatkan,” imbuhnya.
Booth BPMA yang tampak kontras dengan ratusan booth peserta lain yang ikut hadir di IPA Convex 2026, selalu mengundang decak kagum para peserta yang hadir. Masyarakat yang lalu lalang di gedung besar itu, tak hanya mendapatkan informasi padat tentang perkembangan industri migas di Aceh. Namun, warga juga dapat mencicipi cita rasa sajian kopi arabica gayo yang nikmat.
“Kopinya enak, booth BPMA juga keren, khas nuasanya Aceh,” kata Mifthah, seorang mahasiswa dari salah satu universitas di Indonesia yang hadir di IPA Convex 2026.
Tentu, BPMA tak hanya ingin membawa dan mempertegas kearifan lokal Aceh. Jauh lebih dari itu, tentang keberlanjutan dan pengelolaan industri minyak bumi dan gas di provinsi berjuluk serambi mekkah tersebut.
Gelaran IPA Convex 2026 yang diikuti BPMA, bisa jadi sarana penting bagi regulator migas itu, untuk perkuat dan perkokoh fundamental pengelolaan sumber daya alam untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Aceh.










Leave a comment