Bunga tabur, buah tangan saat berziarah

Peringatan 18 tahun Tsunami Aceh

POPULARITAS.COM – Sayup-sayup lantunan zikir terdengar di pemakaman Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar.

Selawat dan lantunan ayat suci penuh irama memenuhi kawasan kuburan massal Siron. Penziarah datang silih berganti membawa seuntai doa untuk orang yang lebih dulu mendahului menghadap sang ilahi.

Aktivitas ziarah ke makam tak terlepas dari tradisi bunga tabur. Penziarah kerap membawakan dari rumahnya atau membeli di seputaran makam.

Pagi tadi, Nurmala (50) memulai kesibukannya sejak pukul 08.00 WIB. Ia mulai dengan menggunting-gunting daun pandan yang akan dicampurkan dengan bunga tabur sebelum dikemas dalam plastik dan daun pisang.

Setelah selesai, Nurmala menjajakan bunga tabur itu dengan bungkusan plastik berisi air dan dalam bungkusan daun pisang di mana hanya terdapat bunga saja.

Puluhan plastik ukuran 1 kilogram terbungkus mulai ia susun rapi di lapak jualan berukuran 1×1 meter yang tak jauh dari rumahnya.

Nurmala mengaku, aktivitas itu ia lakoni sejak beberapa tahun lalu namun ia hanya menjual bunga saat memperingati hari-hari tertentu saja.

“Biasanya dalam setahun 3 kali, waktu lebaran Idulfitri, Iduladha dan memperingati hari Tsunami,” katanya saat mengawali pembicaraan dengan popularitas.com, Senin (26/12/2022).

Nurmala menyampaikan, inisiatifnya menjual bunga tabur lantaran dirinya merasakan betul bagaimana dahsyatnya Tsunami Aceh 2004 silam. Selain memanjatkan doa untuk para syuhada, tradisi tabur bunga sering dibarengi saat berziarah.

Bunga tabur yang dijual di kawasan kuburan massal Siron, Aceh Besar, Senin (26/12/2022). Foto: Riska Zulfira/popularitas.com

Menurutnya, bunga yang ditabur ke pusara orang yang sudah meninggal menjadi kebiasaan agar memberikan aroma yang wangi.

Karena aroma bunga dan wewangian dapat memberikan kesan suasana yang lebih sakral.

Pasca gempa dan Tsunami, ratusan ribu korban berjatuhan, mereka dimakamkan dalam satu liang lahat. Tanpa kenal identitas, kuburan massal Siron menjadi saksi bisu bertumpuknya mayat-mayat korban Tsunami.

Namun, kata Nurmala, keluarganya masih banyak yang selamat. Hanya ada beberapa saudara maupun kerabat yang dimakamkan di pemakaman massal Siron.

“Ada tapi tidak banyak, hanya ada beberapa. Alhamdulillah keluarga inti selamat semua,” ujarnya.

Adapun bunga tabur yang diperjualkan, lanjut Nurmala ada tujuh jenis. Seperti, pandan, melati, bunga asoka, kantil, bunga kenanga, bunga bugenvil atau bunga kertas dan jeruk purut.

Untuk jenis-jenis bunganya sendiri, ia membeli pada tetangga dan dipasar.

“Kami beli sama tetangga, jika lagi berbunga banyak, sebagian beli di pasar,” tuturnya.

Kata Nurmala, untuk bunga tabur lebih sering diminati oleh pengunjung yang berasal dari luar kota Banda Aceh.

Tak perlu menghabiskan banyak dana, per bungkus bunga tabur hanya dibanderol se harga Rp lima ribu.

“Kami jual sampai sore hari, namun lihat juga dari penziarah, jika penziarah cepat habis berarti kami juga tutup lebih cepat. Jika saat Lebaran biasanya kami jual sampai dua hari,” imbuhnya.

Untuk kedepannya, Nurmala berharap peristiwa Tsunami ini dapat menjadi pelajaran bagi semua orang. Bahkan ia mengingatkan untuk tetap berjalan di garis syariat Islam.

“Kita bagi orang yang masih diberi umur panjang harus memperbaiki diri, dengan Tsunami ini kita ambil hikmahnya saja,” harap Nurmala.

Comments
Loading...