Home Ekonomi Dari Lumpur Emas Blang Dalam, Antara Harapan dan Kenyataan
EkonomiNews

Dari Lumpur Emas Blang Dalam, Antara Harapan dan Kenyataan

Share
Tambang Emas Rakyat di Aceh Barat Daya.
Share

POPULARITAS.COM — Di tengah hening pagi Desa Blang Dalam, Kecamatan Babahrot, deru mesin terdengar dari segala arah.

Blang Dalam, yang dulunya sunyi dan penuh rimbunan pohon pala, durian dan pohon sawit, kini berubah jadi kawasan yang tak pernah sepi. Kini ada aktifitas penambangan emas disana.

Tak hanya di Blang Dalam, aktivitas penambangan emas juga ditemukan di Alue Jeureujak dan Ie Merah, dua kawasan yang kini menjadi tujuan baru bagi para penambang rakyat.

Siang malam suara mesin menggema dari balik bukit. Bagi warga di sekitar lokasi ini, emas adalah penyelamat di tengah sulitnya hidup sebagai petani kecil. Usai ke sawah, dan berkebun, warga pun beralih menjadi penambang emas skala rakyat.

Di balik bukit dan sepanjang aliran jalan permukiman menuju ke pegunungan, ribuan mesin logam berputar tanpa henti, warga menyebutnya gelendong.

Mesin-mesin silinder itu, sebagian besar buatan rumahan, berfungsi menggiling batuan hasil galian tambang untuk memisahkan butiran emas.

Dalam putaran konstan selama berjam-jam, batu dihancurkan bersama air dan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan sianida.

Dari kejauhan, suara dentuman gelendong saling bersahutan antara satu dengan ratusan gelendong yang lain.

Pemandangan itu memperlihatkan satu kenyataan baru, bahwa emas kini menjadi mata pencarian utama bagi warga Babahrot dan Abdya umumnya, menggantikan sawit yang dulu menjadi tumpuan hidup mereka.

Diperkirakan, ribuan warga Abdya kini bekerja di tambang emas rakyat tersebut.

Bahkan, sebagian datang dari kabupaten tetangga, mereka rela meninggalkan keluarga demi mengejar harapan di tanah yang dipercaya menyimpan rezeki dari perut bumi.

Di sepanjang lereng pegunungan Blang Dalam, Alue Jerjak hingga kaki gunung Ie Merah, aktivitas tambang emas rakyat berlangsung tanpa henti.

 

Ada yang menggali tanah, ada yang mengangkut material, ada yang mencuci emas, dan tak sedikit pula laki-laki yang bertugas memasak untuk rekan-rekannya. Sementara itu, ribuan gelondong terus berputar siang dan malam, menggiling batu dan lumpur, mencari sebutir keberuntungan dari perut bumi Babahrot

Dari tanah berlumpur di sepanjang Blang Dalam inilah, setiap minggunya diperkirakan keluar antara satu hingga sepuluh kilogram emas, hasil dari kerja keras ribuan tangan yang menggali, mencuci, dan mengayak harapan di pergunungan yang kini mulai gundul tersebut.

Bagi para penambang, hasil itu menjadi simbol harapan, rata-rata 11 gram emas per hari bagi tiap orang, yang nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah dalam seminggu.

Bagi sebagian warga, angka itu berarti keberuntungan besar. Namun bagi yang lain, itu adalah perjuangan tanpa kepastian.

Bagi para penambang rakyat, keberuntungan adalah hal yang nyata dan menentukan. Di sini, emas tak hanya soal kerja keras, tapi juga soal nasib.

Namun di balik kemilau emas, ada risiko besar yang mengintai. Bukit-bukit di sekitar Blang Dalam mulai gundul. Longsor kecil kerap terjadi, terutama saat hujan deras.

Air sungai membawa lumpur dan logam berat, mengalir ke sawah-sawah warga di hilir.

Bagi sebagian penambang, tambang emas adalah anugerah. Namun bagi yang lain, adalah ancaman dan petaka.

Dan di balik semua itu, kilau emas tetap memantulkan cahaya yang sama menyilaukan, menggoda, dan tak pernah benar-benar padam.

Blang Dalam kini hidup dari emas. Tapi di balik kilaunya, ada cerita manusia, tentang perjuangan, nasib, dan keyakinan bahwa setiap butir emas yang keluar dari lumpur adalah bukti nyata kerja keras rakyat kecil. Ada yang mujur dan beruntung, ada yang apes dan gulung tikar, tapi semua tetap berharap.

“Kalau malam, suara mesin seperti hujan batu. Ribuan gelendong bunyinya tidak berhenti. Alhamdulillah, siapa saja dan dari mana kabupaten aja boleh masuk, karena rizki Allah SWT yang atur, kita tidak boleh iri atau dengki, karena jika kita dengki, kata orangtua emas ini akan hilang,” ujar Syukur seorang warga yang rumahnya terpaut ratusan meter dari tempat beroperasinya gilingan batu emas tersebut.

Kabarnya, kilauan emas tak hanya menyinari Kecamatan Babahrot. Di Kuala Batee, Jeumpa, hingga Kecamatan Lembah Sabil pun, tanahnya diyakini menyimpan logam berharga itu.

Bahkan, sempat beredar kabar bahwa salah satu izin tambang di kawasan itu disebut-sebut berkaitan dengan keluarga pejabat daerah dan tenaga ahli bupati. Polemik itu memicu protes hingga berujung pada pencabutan rekomendasi tambang.

Meski begitu, harapan warga tetap sama, semoga emas yang terkandung di tanah Abdya menjadi berkah bagi rakyat, bukan petaka yang menggusur kehidupan petani.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Marzuki Ali Basyah luncurkan buku ‘Polda Aceh Meutuah’
News

Marzuki Ali Basyah luncurkan buku ‘Polda Aceh Meutuah’

POPULARITAS.COM – Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, rabu (3/6/2026), resmi luncurkan bukunya....

News

Gerindra Pidie Jaya : Pergantian pimpinan BGN perkuat program MBG

POPULARITAS.COM – Politikus partai Gerindra di Pidie Jaya, Fakhrurrazi mendukung penuh kebijakan...

InternasionalNews

Krisis Demografi Makin Nyata, Jepang Kehilangan 3 Juta Penduduk dalam 5 Tahun

POPULARITAS.COM – Jepang tengah menghadapi krisis demografi yang kian mengkhawatirkan. Dalam lima...

News

Dasco Mengaku Baru Dengar Kejagung Geledah Kantor BGN

POPULARITAS.COM – Wakil Ketua DPR sekaligus Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco...