POPULARITAS.COM – Harga modul DDR5 di pasar ritel China mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap teknologi kompresi memori baru dari Google yang disebut TurboQuant.
Penurunan harga terjadi di tengah krisis memori yang melanda industri sejak akhir 2025. Permintaan tinggi dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan data center membuat pasokan DRAM untuk konsumen dan PC menyusut drastis. Akibatnya, harga DDR5 sempat melonjak tajam hingga ratusan persen di banyak wilayah.
Google Research merilis TurboQuant pada akhir Maret 2026. Algoritma ini mampu mengompresi KV-cache (key-value cache) pada model AI hingga 4 hingga 6 kali lipat tanpa penurunan performa signifikan pada tugas long-context. Rilis tersebut langsung memicu reaksi keras di pasar keuangan.
Saham produsen memori besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron anjlok. Total kapitalisasi pasar sektor memori dilaporkan menyusut ratusan miliar dolar dalam waktu singkat. Investor khawatir teknologi ini akan mengurangi kebutuhan memori fisik untuk inference AI di masa depan.
Baca Juga:Pengadilan China Larang PHK Karyawan Demi Ganti AI demi Efisiensi
Dikutip dari berbagai laporan media internasional, penurunan harga ritel DDR5 di China mencapai lebih dari 30 persen dalam waktu relatif singkat. Di kawasan perdagangan elektronik Huaqiangbei, Shenzhen, banyak distributor dan pedagang melakukan aksi jual cepat atau “cuci gudang”.
Para penimbun yang sebelumnya membeli stok besar saat harga tinggi kini panik dan melepas barang dengan harga lebih rendah demi meminimalkan kerugian. Contohnya, modul DDR5 16GB SO-DIMM yang sempat dijual sekitar 1.759 yuan (Rp4,3 juta) turun menjadi sekitar 1.159 yuan (Rp2,8 juta).
Penurunan serupa juga terlihat di platform e-commerce dan pasar spot lainnya. Namun, analis menegaskan bahwa penurunan ini lebih dominan di pasar ritel dan sekunder. Harga kontrak untuk pembelian skala besar oleh produsen tetap relatif stabil.

TrendForce, firma riset pasar memori terkemuka, mencatat bahwa koreksi harga ritel lebih mencerminkan momentum konsumen yang melemah dan aksi panic selling daripada perubahan fundamental pada supply-demand industri. Permintaan DRAM untuk aplikasi AI masih kuat, sehingga krisis struktural diprediksi belum sepenuhnya berakhir hingga 2027–2028.
Efisiensi yang dihasilkan TurboQuant justru berpotensi mendorong adopsi AI lebih luas (Jevons Paradox), yang pada akhirnya bisa meningkatkan kebutuhan memori secara keseluruhan di masa mendatang.
Baca Juga: Angkatan Laut AS Gunakan AI untuk Percepat Deteksi Ranjau Iran di Selat Hormuz
Bagi konsumen di Indonesia, penurunan harga di China ini memberikan harapan akan harga RAM yang lebih terjangkau dalam waktu dekat, meski dampaknya ke pasar lokal masih perlu dipantau. Pelaku usaha rakit PC dan pengguna yang menunda upgrade disarankan memantau perkembangan harga sebelum membeli.
Situasi pasar memori global tetap dinamis. Perpaduan antara inovasi software seperti TurboQuant dan dinamika supply chain fisik akan terus memengaruhi harga DDR5 ke depan.










Leave a comment