POPULARITAS.COM, JAKARTA — Lonjakan harga bahan baku plastik hingga 100 persen pada April 2026 memukul industri manufaktur dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Di saat yang sama, krisis sampah plastik nasional terus memburuk — mendorong berbagai pihak beralih ke sistem kemasan guna ulang sebagai jalan keluar.
Kenaikan harga plastik dipicu oleh tekanan harga minyak bumi, gangguan rantai pasok global, dan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda. Biaya produksi kemasan pun ikut melonjak drastis, menekan margin pelaku usaha dari hulu ke hilir.
Kondisi ini diperparah oleh krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat timbunan sampah plastik terus meningkat — dari 9–10 juta ton pada 2019 menjadi 12 juta ton pada 2023, dan diproyeksikan mencapai 12,4 juta ton pada 2025. Dalam lima tahun, volume sampah plastik tumbuh sekitar 20–30 persen.
Minum Air Botol Plastik Tingkatkan Risiko Telan 90.000 Mikroplastik
Kapasitas pengelolaan sampah belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan itu. Dari 524 tempat pembuangan akhir (TPA) yang tercatat, baru 25 persen sampah yang berhasil dikelola. Sisanya masih menjadi beban lingkungan yang belum tertangani.
Di tengah tekanan ganda itu, sistem kemasan guna ulang — seperti galon air minum isi ulang — mulai dilirik sebagai alternatif yang lebih ekonomis sekaligus ramah lingkungan. Dikutip dari pernyataan redaksi di Jakarta, Selasa 14 April 2026, Praktisi Komunikasi sekaligus Dosen Periklanan Polimedia, Andre Donas, menyebut pilihan ini sebagai respons logis terhadap perubahan perilaku konsumen.
“Konsumen kini lebih cerdas. Mereka tidak hanya mencari air minum yang aman dan higienis, tetapi juga mempertimbangkan dampak lingkungannya,” ujar Andre. Menurutnya, galon guna ulang adalah solusi paling masuk akal dalam situasi pasar saat ini.
Tren tersebut dikuatkan oleh temuan survei Pusat Riset Konsumen Ganesha (PRKG). Peneliti Senior PRKG, Aan Rusdianto, mengungkapkan bahwa tingkat penggunaan galon guna ulang di kawasan Jabodetabek telah mencapai 89,36 persen, sementara pengguna galon sekali pakai hanya tersisa 5,32 persen.
“Masyarakat memilih guna ulang karena alasan keamanan, kepraktisan, dan rekam jejak penggunaan yang minim keluhan selama bertahun-tahun. Yang terpenting, mereka tidak menambah timbulan sampah baru,” jelas Aan.
Sejumlah pemerintah daerah pun mulai bergerak merespons situasi ini. Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) aktif mendampingi UMKM untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan berbasis serat alam lokal.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati, menjelaskan langkah konkret yang tengah dijalankan pihaknya. “Kami memanfaatkan potensi lokal seperti mendong, pandan, dan kelapa yang melimpah di DIY. Selain ramah lingkungan, kami juga memfasilitasi skema pembelian kolektif untuk memotong rantai distribusi agar biaya tetap terjangkau bagi perajin,” pungkasnya. (hsn)
Sumber: rmol.id










Leave a comment