POPULARITAS.COM – Entitas perbankan di Aceh, ikut terimbas berat saat bencana maha dahsyat terjang provinsi ujung barat Sumatra itu pada November 2025. Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di 18 kabupaten dan kota di daerah itu, turut menghancurkan banyak infrastruktur dasar. Hal itulah yang dirasakan oleh seluruh manajemen Bank Aceh.
Kala banjir besar humbalang pada November 2025 lalu, 46 jaringan kantor Bank Aceh terpaksa dihentikan operasionalnya. Dibawah kepemimpinan Dirut Fadhil Ilyas, langkah cepat ditempuh. Ia pun membentuk Task Force Percepatan Pemulihan Kantor Bank Aceh.
Pelan namun pasti, tim terus bekerja dengan cepat. Dibawah komando Fadhil Ilyas, gerak cepat dilakukan. Beban berat dirasakannya. Pemulihan harus dilakukan, tapi membantu masyarakat juga tak boleh berhenti.
Sembari memperbaiki jaringan kantor yang rusak, Fadhil Ilyas juga mengkordinasikan berbagai bantuan kemanusiaan untuk membantu warga terdampak banjir.
Satu bulan usai bencana, Fadhil Ilyas bersama tim yang ia bentuk, berhasil mengembalikan dan memulihkan seluruh jaringan yang rusak akibat bencana. “Alhamdulillah, 46 jaringan yang berhenti beroperasi kini sudah pulih,” katanya pada 15 Desember 2026 lalu.
Faktor lainnya, banjir bandang itu tak hanya hancurkan infrastruktur, tapi juga lapangan usaha rakyat. Banyak para nasabah Bank Aceh yang terimbas bencana. Kondisi itu pun berdampak skema pembiayaan yang dijalankan perbankan itu.

Keprihatinan itu pun dirasakan benar oleh Fadhil Ilyas. Maka, Bank Aceh kemudian menjalankan skema relaksasi bagi sektor UMKM dan pelaku kredit usaha rakyat (KUR).
Para nasabah yang terimbas bencana, bisa melaporkan kondisi usaha mereka, untuk kemudian mendapatkan keringanan pembayaran dari Bank Aceh.
Kondisi dan situasi itu, justru membuat Fadhil Ilyas dan timnya bekerja cepat dan tak kenal lelah. Hasilnya, Bank Aceh tunjukkan kinerja positif pada triwulan I 2026.
Bank Aceh menunjukkan resiliensi yang luar biasa dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di awal tahun 2026. Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama yang berakhir pada 31 Maret 2026, Bank Aceh berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja di tengah tantangan pemulihan pasca bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh akhir tahun lalu.
Total Aset Bank Aceh kini mencapai Rp29,89 triliun, meningkat 2,19% dibandingkan posisi Maret 2025 yang sebesar Rp29,25 triliun. Peningkatan aset ini mencerminkan pengelolaan portofolio yang sehat serta kepercayaan nasabah yang tetap terjaga.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp25,17 triliun, tumbuh 2,47% secara tahunan (year-on-year). Angka ini menunjukkan bahwa Bank Aceh tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam mengelola simpanan mereka, yang menjadi modal penting bagi bank untuk terus berekspansi.
Sebagai motor penggerak ekonomi daerah, Bank Aceh juga mengakselerasi Penyaluran Pembiayaan yang tumbuh 3,14% menjadi Rp21,20 triliun. Fokus pembiayaan ini diarahkan pada sektor-sektor produktif untuk membantu para pelaku usaha bangkit dan memperkuat struktur ekonomi masyarakat pasca tantangan alam di tahun sebelumnya.
Direktur Utama Bank Aceh, Fadhil Ilyas, menyatakan bahwa capaian ini merupakan hasil dari strategi bisnis yang adaptif. “Kami tidak hanya mengejar angka, tetapi memastikan bahwa setiap rupiah pembiayaan yang disalurkan memiliki dampak nyata bagi pemulihan ekonomi masyarakat Aceh,” ungkapnya.












Leave a comment