POPULARITAS.COM – Blokade militer Amerika Serikat di Selat Hormuz resmi berjalan, dan Pentagon mengklaim tidak ada satu pun kapal yang berhasil menembusnya dalam 24 jam pertama. Enam kapal dagang dilaporkan memilih berbalik arah setelah menerima peringatan dari pasukan AS.
Komando Pusat militer AS (Centcom) merilis pernyataan resmi pada Selasa (15/4/2026), menandai pembaruan pertama sejak Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan blokade tersebut. Langkah ini diambil menyusul gagalnya perundingan AS-Iran di Pakistan, yang bertujuan mengakhiri konflik yang melibatkan AS dan Israel sejak 28 Februari 2026.
Centcom menegaskan, blokade hanya menyasar kapal yang hendak masuk atau keluar dari pelabuhan Iran. Kapal-kapal yang tidak menuju pelabuhan Iran tetap bebas melintas.
Dikutip dari Beritasatu.com, Centcom menyatakan: “Pasukan AS mendukung kebebasan navigasi untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz ke dan dari pelabuhan non-Iran.”
Baca juga: AS Blokade Selat Hormuz dan Pelabuhan Iran, Pasokan Energi Global Terancam Terganggu
Data Berbeda dari Media Internasional
Klaim Pentagon tidak sepenuhnya sejalan dengan laporan media internasional. Reuters mencatat setidaknya tiga kapal berhasil melintasi Selat Hormuz dalam periode yang sama, termasuk dua kapal tanker yang masuk daftar sanksi AS — meski keduanya tidak menuju pelabuhan Iran.
AFP dan sejumlah media AS, mengutip data pelacak maritim Kpler, menyebut dua kapal tetap melintas setelah sebelumnya meninggalkan pelabuhan Iran pada Senin (14/4/2026).
Untuk mendukung operasi ini, Centcom mengerahkan sekitar 10.000 personel militer — terdiri dari pelaut, marinir, dan penerbang — didukung lebih dari selusin kapal perang serta puluhan pesawat tempur.
Risiko Eskalasi dan Tekanan Global
Para pengamat militer menilai AS memiliki kapasitas mempertahankan blokade dalam jangka tertentu. Namun, tekanan yang terus berlanjut dinilai berpotensi memicu respons militer Iran, yang dapat menggagalkan gencatan senjata dua pekan yang mulai berlaku pada Rabu (16/4/2026).
Kekhawatiran lain muncul dari kemungkinan pencegatan kapal negara ketiga, termasuk China, yang bisa memicu eskalasi baru sekaligus mengguncang stabilitas pasar minyak global.
Pemerintah Iran mengecam blokade AS sebagai bentuk “pembajakan”. Sebaliknya, Trump menegaskan komitmennya untuk menindak tegas setiap kapal yang mencoba menerobos blokade.
Diplomasi Belum Temukan Titik Temu
Di tengah ketegangan ini, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Trump menyebut kemungkinan adanya perkembangan baru dalam waktu dekat, meski perundingan maraton selama 21 jam antara delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance dan delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf belum menghasilkan terobosan.
Pertemuan itu tercatat sebagai kontak langsung tingkat tinggi pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran pada 1979.
Sejumlah isu krusial masih mengganjal, antara lain kendali atas Selat Hormuz, masa depan program nuklir Iran, dan kemungkinan perluasan gencatan senjata ke konflik di Lebanon.
Dikutip dari Beritasatu.com, jurnalis Al Jazeera Ali Hashem yang melaporkan dari Teheran menyatakan: “Iran terbuka untuk berdialog, dan itu ditunjukkan sejak pekan lalu ketika mereka pergi ke Islamabad. Hambatan utama selalu adalah ketidakpercayaan, ketidaksetujuan antara kedua belah pihak.”
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia. Setiap eskalasi di kawasan ini berpotensi berdampak langsung terhadap harga minyak dan stabilitas ekonomi global. (hsn)
Sumber: beritasatu.com












Leave a comment