POPULARITAS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Iran tidak menjalankan komitmennya dalam kesepakatan gencatan senjata yang baru disepakati bersama AS dan Israel. Salah satu sorotan utama Trump adalah belum normalnya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute distribusi minyak paling penting di dunia.
Pernyataan itu muncul ketika gencatan senjata dua pekan antara AS, Israel, dan Iran mulai memperlihatkan kerentanan. Dalam kesepakatan tersebut, Iran disebut berkomitmen membuka kembali Selat Hormuz agar kapal-kapal komersial dapat melintas secara normal.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia dikirim melalui jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab itu. Karena itu, gangguan di wilayah tersebut dapat berdampak langsung pada pasar energi internasional.
Namun, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sejauh ini masih terbatas. Data pelayaran menunjukkan, dalam 24 jam pertama setelah pengumuman gencatan senjata, hanya satu kapal tanker produk minyak dan lima kapal pengangkut barang curah kering yang melintas.
Kondisi itu memicu kritik dari Trump. Ia menilai Iran tidak menunjukkan itikad baik dalam menjalankan isi kesepakatan.
“Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dengan mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz,” tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social, dikutip dari The New Daily, Jumat (10/4/2026).
Trump juga menegaskan kondisi di lapangan tidak sesuai dengan poin yang telah dirundingkan sebelumnya.
“Itu bukan kesepakatan yang kita miliki!” seru orang nomor satu di Amerika tersebut.
Selain itu, Trump mengatakan dirinya menerima laporan bahwa Iran diduga memungut biaya tol dari kapal tanker yang hendak melintas di Selat Hormuz. Menurut dia, langkah tersebut bertentangan dengan semangat kesepakatan yang ditujukan untuk memulihkan normalitas perdagangan internasional.
“Sebaiknya mereka tidak melakukannya, dan jika mereka melakukannya, mereka harus berhenti sekarang juga!” tuntut Trump.
Khamenei Sebut Iran Masuki Fase Baru
Di pihak lain, pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, memberi sinyal bahwa kebijakan Iran di kawasan akan memasuki babak baru. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Khamenei menyebut negaranya sedang menuju fase baru atau era baru.
Meski demikian, ia tidak memerinci kebijakan yang dimaksud, termasuk soal Selat Hormuz.
Dalam pernyataan yang dibacakan presenter televisi pemerintah Iran, Khamenei juga mengeklaim Iran sebagai pihak yang memenangkan perang selama lima pekan terakhir.
Ia menegaskan Iran tidak akan tinggal diam terhadap pihak yang menyerang negaranya. Khamenei menyatakan bangsanya sebagai pemenang akhir dalam perang tersebut, serta bersumpah akan menghukum para kriminal yang menyerang negara kita.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa meski gencatan senjata sudah diumumkan, ketegangan politik dan retorika di antara pihak-pihak yang terlibat masih belum mereda.
Konflik Israel-Lebanon Bayangi Gencatan Senjata
Selain persoalan Selat Hormuz, keberlangsungan gencatan senjata juga dibayangi konflik yang terus memanas antara Israel dan Lebanon.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menegaskan gencatan senjata dengan Iran tidak berlaku untuk Lebanon. Setelah itu, Israel terus melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon. Sedikitnya 300 orang di Lebanon dilaporkan tewas akibat serangan terbaru Israel pada Kamis (9/4/2026).
Perkembangan tersebut sempat memunculkan kekhawatiran bahwa konflik di Lebanon dapat mengganggu kesepakatan gencatan senjata yang lebih luas di kawasan.
Namun, dalam perkembangan terbaru, Netanyahu menyatakan Israel siap membuka jalur negosiasi langsung dengan Lebanon. Ia mengatakan telah memerintahkan kabinetnya untuk segera memulai pembicaraan tersebut.
“Mengingat permintaan berulang Lebanon untuk membuka negosiasi langsung dengan Israel, saya menginstruksikan kabinet kemarin untuk memulai negosiasi langsung dengan Lebanon sesegera mungkin,” katanya.
Netanyahu menambahkan, pembicaraan itu akan difokuskan pada dua isu utama, yakni pelucutan senjata Hizbullah dan pembangunan hubungan damai antara Israel dan Lebanon.
“Negosiasi akan berfokus pada pelucutan senjata Hizbullah dan membangun hubungan damai antara Israel dan Lebanon,” tambahnya.
Hingga kini, pemerintah Lebanon belum menyampaikan tanggapan resmi terkait rencana perundingan tersebut.
Trump Minta Israel Turunkan Intensitas Serangan
Trump juga mengaku telah berbicara langsung dengan Netanyahu mengenai eskalasi serangan militer di Lebanon. Dalam wawancaranya dengan NBC News, Trump mengatakan ia meminta Israel mengurangi intensitas serangan.
Menurut Trump, langkah itu diperlukan agar situasi di kawasan tidak semakin memburuk.
“Saya berbicara dengan dia dan dia akan mengurangi intensitasnya. Saya hanya berpikir kita harus sedikit lebih tenang,” kata Trump kepada NBC News.
Perundingan AS-Iran di Islamabad Terancam Tertunda
Di sisi lain, rencana perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (10/4/2026) di Islamabad, Pakistan, terancam tertunda.
Laporan menyebut delegasi Iran belum bertolak dari Teheran seiring meningkatnya ketegangan akibat serangan Israel ke Lebanon. Peneliti senior Center for Middle East Strategic Studies, Abas Aslani, mengatakan keputusan itu diambil karena situasi keamanan dinilai belum memungkinkan.
Baca juga: 10 Poin Proposal Iran yang Disetujui AS untuk Gencatan Senjata
“Delegasi Iran belum meninggalkan Teheran karena pihak Iran menilai selama serangan Israel ke Lebanon masih berlangsung, perundingan di Islamabad tidak dapat dilakukan,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera, Jumat (10/4/2026).
Menurut Aslani, eskalasi konflik di Lebanon menimbulkan ketidakpastian terhadap agenda diplomasi yang sebelumnya telah direncanakan.
“Ini menunjukkan eskalasi di Lebanon telah menimbulkan keraguan terhadap kelangsungan perundingan,” katanya.
Jika penundaan benar-benar terjadi, upaya diplomasi untuk meredakan konflik yang melibatkan AS, Iran, dan para sekutunya di Timur Tengah berpotensi menghadapi tantangan lebih besar.
Secara keseluruhan, situasi ini memperlihatkan bahwa meski gencatan senjata telah diumumkan, stabilitas kawasan masih sangat rapuh. Ketegangan militer, perselisihan politik, dan konflik regional yang saling berkaitan tetap menjadi faktor yang dapat menghambat upaya perdamaian. (hsn)
sumber: beritasatu.com












Leave a comment