Saling ejek berbuntut ricuh di Kampus USK

Kondisi Sekretariat BEM Fakultas Pertanian usai dirusak oleh sekelompok mahasiswa. Foto direkam, Kamis (13/10/2022). Foto: Riska Zulfira/popularitas.com

POPULARITAS.COM – Keheningan di kompleks Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh berubah menjadi riuh pada Rabu (12/10/2022) malam. Sekitar pukul 23.30 WIB, dua kelompok mahasiswa terlibat saling serang. Batu, kayu, dan batako berterbangan tak beraturan.

“Kejadiannya jam 23.30 WIB, sampai betul-betul bubar itu jam 03.30 WIB,” kata Kepala Satuan Reskrim Polresta Banda Aceh, Komisaris Polisi Fadillah Aditya Pratama saat dihubungi popularitas.com, Kamis (13/10/2022).

Dua kelompok yang terlibat bentrok tersebut adalah mahasiswa Fakultas Teknik dan Pertanian USK. Dalam insiden ini, tiga mahasiswa Pertanian dilaporkan mengalami luka-luka.

“Tiga korban sudah mendapatkan perawatan medis,” ucap Fadillah.

Fadillah menjelaskan, dalam kejadian tersebut, gedung sekretariat BEM Pertanian mengalami pecah kaca, pagar belakang Fakultas Pertanian dan tiga sepeda motor juga ikut rusak.

Polresta Banda Aceh, kata dia, menurunkan puluhan personel untuk membubarkan aksi tawuran tersebut hingga benar-benar kondusif.

“Massa baru benar-benar bubar setengah 4, jelang salat Subuh,” kata Fadillah.

Dari penelusuran informasi yang dilakukan oleh popularitas.com, kasus saling serang antar dua fakultas itu berawal dari postingan di IG milik BEM Fakulitas Pertanian yang dinilai menyinggung dan melecehkan mahasiswa teknik.

Selanjutnya, unsur BEM FT USK mendatangi mahasiswa pertanian, dan meminta agar postingan itu diturunkan, atau take down, namun ternyata tak kunjung dilakukan.

Postingan serupa juga dilakukan mahasiswa pertanian di snap pribadi, buntutnya anak-anak FT USK yang sudah panas, memanggil mahasiswa pertanian itu, dan dilakukan ‘peusijuk’ ala anak teknik.

Lalu, mahasiswa Pertanian melakukan aksi balas, dengan cara mencoret baliho milik anak teknik di kampus mereka, dan bahkan disertai dengan gambar yang dinilai tak senonoh. Amarah anak teknik memuncak, dan malam itu, tak kurang 200 mahasiswa FT mendatangi kampus pertanian, dan meminta agar pelaku yang mencoret baliho untuk menghapus dan minta maaf.

Nah, karena tidak ada jalan keluar, dan situasi makin memanas, terjadilah aksi perkelahian antar kedua belah pihak.

Kutipan Sastra Mengundang Petaka

Dari hasil pemeriksaan sementara, Polresta Banda Aceh menerangkan, bentrok tersebut bermula dari saling ejek antara kedua kelompok mahasiswa itu. Ini imbas dari keselahpahaman antara salah seorang mahasiswa Fakultas Pertanian yang terjadi sekitar sebulan yang lalu.

Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh, Komisaris Polisi Fadillah Aditya Pratama mengatakan, kesalahpahaman itu bermula dari kutipan sastra yang bertemakan “Buku Cinta dan Pesta”. Tema tersebut dibahas saat temu ramah mahasiswa baru angkatan 2022 yang diselenggarakan oleh BEM Pertanian USK.

Mahasiswa Fakultas Teknik mengklaim jika kutipan “Buku Cinta dan Pesta” tersebut adalah milik mereka. Merasa sebagai pemilik hak cipta, mahasiswa Teknik meminta mahasiswa Fakultas Pertanian untuk mengklarifikasi dan meminta maaf kepada mahasiswa Teknik.

Namun, lanjut Fadillah, pihak mahasiswa Fakultas Pertanian tidak menerima atas tindakan tersebut dan menganggap sebagai bentuk pelecehan personal yang mencederai citra fakultas itu.

“Kejadian tersebut telah dilaporkan kepada Birokrasi USK dengan tujuan agar kesalahanpahaman ini dapat dimediasikan oleh Birokrasi USK, akan tetapi pihak birokrasi mengatakan kejadian penyiraman oil tersebut adalah hal yang lazim dan tradisi dari Fakultas Teknik,” tambahnya.

Kericuhan tersebut dalam penanganan pihak kepolisian. Fadillah menyebutkan bahwa pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi dalam kasus itu.

“Kita lakukan penyelidikan dulu, karena memang banyak pelaku dari oknum mahasiswa Fakultas Teknik, jadi kita hati-hati untuk penyelidikannya,” terang Fadillah.

Kondisi salah satu bagian Fakultas Pertanian usai dirusak oleh sekelompok mahasiswa. Foto direkam, Kamis (13/10/2022). Foto: Riska Zulfira/popularitas.com

Keselahpahaman

Salah satu mahasiswa Fakultas Pertanian yang menjadi korban tawuran itu menceritakan bahwa insiden tersebut terjadi sekitar pukul 23.00 WIB, Rabu (12/10/2022) malam. Ia meminta namanya agar dirahasiakan.

Saat ditemui popularitas.com, Kamis (13/10/2022), mahasiswa itu bersama dua temannya mengaku menjadi korban pemukulan oleh mahasiswa Fakultas Teknik.

Tanpa dikomandoi, segerombolan mahasiswa dari Fakultas Teknik yang berjumlah seratusan lebih memporak-porandakan Sekretariat BEM Fakultas Pertanian.

Kala itu, sembilan mahasiswa dari Fakultas Pertanian sedang berada di lokasi. Mereka mengatakan kejadian terjadi begitu cepat, para mahasiswa dari fakultas tetangga itu membawa balok-balok besar dan parang sebagai senjata.

“Kami mendapat kabar burung sebelumnya kalau ada yang mau menyerang kami. Tidak lama dari kabar itu kami mendengar ada yang teriak-teriak dari arah belakang fakultas, dengan membawa balok-balok kayu,” katanya.

Dia mengatakan, kericuhan tersebut imbas dari keselahpahaman antara salah seorang mahasiswa Fakultas Pertanian dengan BEM Fakultas Teknik yang terjadi sekitar sebulan yang lalu.

Kesalahpahaman itu berawal dari sebuah kutipan di instastory mahasiswa Pertanian dengan kalimat “Buku Cinta Pesta Akan Berakhir Mari Kita Nikmati Bersama”. Mahasiswa itu mengaku tidak mengetahui bahwa kutipan itu merupakan slogan yang digunakan Fakultas Teknik.

“Dibilang kami menghina slogan mereka. Yang mana maksudnya itu, kami yang dari angkatan 2018 yang tidak lama lagi studinya akan berakhir, tidak ada maksud lain,” ucapnya.

Lalu, kata mahasiswa itu, terkait kutipan “Buku Cinta Pesta” tersebut dianggap sebagai hak cipta oleh milik Fakultas Teknik, sehingga pihak Fakultas Teknik meminta Fakultas Pertanian agar mengklarifikasi dan meminta maaf pada Fakultas teknik dengan merekam video.

“Di hari itu kami ikuti kemauan mereka, di video itu kalau memang instastory kami di hari itu salah, maka kami mohon maaf, tidak ada maksud kawan-kawan,” ucapnya.

Kondisi salah satu bagian Fakultas Pertanian usai dirusak oleh sekelompok mahasiswa. Foto direkam, Kamis (13/10/2022). Foto: Riska Zulfira/popularitas.com

Namun, setelah itu ada pihak yang memprovokasi, sehingga suasana kembali memanas. Bahkan, mahasiswa Teknik dituding sempat melakukan hal-hal yang dinilai tidak pantas dilakukan.

Pasalnya beberapa dari mereka menyuruh mahasiswa pertanian membuka baju BEM yang digunakan, serta menyiramnya dengan air comberan dan oli.

“Dan kami masih punya bukti yang baju-baju kami disiram dengan oli,” tuturnya.

Kemudian, pada Selasa (11/10/2022) malam mahasiswa dari Fakultas Teknik juga sempat mendatangi sekretariat BEM Fakultas Pertanian.

Dalam kesempatan itu, mereka juga sempat mempermasalahkan tulisan mural dengan kaliman “Ditunggu di Kampus Hijau”.

“Tulisan itu bukan kerjaan kami. Kami yakin itu bukan perbuatan kami,” jelas mahasiswa itu.

“Kalau memang itu salah, mengapa tidak sehari atau dua hari dari kejadian itu. Kenapa baru sekarang, apa sudah direncanakan?”

Amatan popularitas.com di lokasi, sejumlah fasilitas di Sekretariat BEM Fakultas Pertanian rusak parah, salah satunya kaca jendela. Bahkan, mahasiswa Fakultas Teknik juga merusak kebun jagung yang berada di sekitar sekretariat Pertanian.

Selain fasilitas, empat kendaraan roda dua milik mahasiswa Fakultas Pertanian juga dirusak. Kerusakan terjadi pada bagian spion, body dan bagian lainnya.

“Keempat motor kami itu rusak, spionnya patah, body motor pecah, serta bagian bagian lain juga pecah,” katanya.

Pecahan kaca berserakan di salah satu bagian Fakultas Pertanian usai terjadi penyerangan pada Rabu (12/10/2022) jelang tengah malam. Foto direkam, Kamis (13/10/2022). Foto: Riska Zulfira/popularitas.com

Tolak Disebut Bersalah

Ketua BEM Fakultas Teknik, Hafiz Alfarizi menolak jika hanya pihaknya yang disalahkan dalam insiden tersebut. Dalam sejumlah pernyataan melalui pemberitaan, kata dia, seolah-olah hanya mahasiswa Fakultas Teknik yang bersalah.

“Banyak tudingan yang menyalahkan FT, sebentar lagi kami akan mengeluarkan press release dari BEM-FT,” sebut Hafiz.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik, Alfiansyah Yulianu tolak berkomentar terkait insiden tersebut. Ia meminta media ini untuk menghubungi Wakil Rektor III USK.

“Mohon maaf, persoalan tersebut sudah ditangani oleh Wakil Rektor III dan Biro Kemahasiswaan USK,” kata Alfiansyah.

Dekan Fakultas Pertanian USK, Prof Samadi menanggapi insiden itu dengan kepala dingin. Dia mengajak semua pihak untuk menahan diri, agar suasana tidak semakin rumit.

Lulusan Goettingen University, Jerman itu juga mengklaim kericuhan antarmahasiswa itu sudah teratasi, berkat mediasi pimpinan dua kampus itu.

“Alhamdulillah sudah aman, tadi sudah kita mediasi dan dalam proses penyelesaian. Mohon doanya,” kata Samadi.

Sanksi Menanti Para Pelaku

USK siap memberikan sanksi kepada siapapun pelaku perusakan fasilitas kampus. Hal ini berkaitan dengan peristiwa penyerangan oleh sekelompok mahasiswa dari Fakultas Teknik terhadap gedung Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Pertanian pada Kamis (13/10/2022) dini hari.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor I USK Prof Agussabti, M.Si saat meninjau lokasi gedung Ormawa yang dirusak massa tersebut.

Menurutnya, apapun alasannya tindakan penyerangan seperti itu tidak dapat dibenarkan. Apalagi pelakunya adalah mahasiswa yang semestinya turut bertanggung jawab menjaga fasilitas kampus.

Meskipun demikian, keputusan sanksi tersebut baru akan dibahas setelah pihak kepolisian melakukan proses penyelidikan terhadap kasus ini.

“Tentu kita harus tegas untuk hal-hal seperti ini. Karena bagaimanapun juga perilaku anarkis seperti itu harus ditindak tegas dan diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Agussabti.

Untuk itulah, dirinya mengatakan pimpinan universitas akan mencermati kembali akar permasalahan ini sebaik mungkin. Sebab sanksi yang diberikan nantinya juga akan diberikan kepada pihak yang turut memicu terjadi permasalahan ini.

“Jadi kita ingin memberikan rasa keadilan kepada semua pihak. Karena tidak mungkin penyerangan ini terjadi begitu saja,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III USK Prof Mustanir mengatakan, pemberian sanksi ini merupakan bentuk pembelajaran agar masalah serupa tidak terulang lagi.

Selain itu, dirinya menilai permasalahan ini akan menjadi bahan evaluasi bagi pimpinan dan seluruh dosen universitas. Sebab menurutnya, tindakan penyerangan yang dilakukan mahasiswa ini merupakan bentuk dari kegagalan dalam transfer nilai.

“Kejadian ini menjadi catatan tersendiri untuk bahan evaluasi bagi kami, agar proses pembinaan di lingkungan kampus ini semakin baik, dan peristiwa seperti ini tidak terulang lagi,” ucapnya.

Maka dirinya berharap, kejadian ini menjadi pembelajaran untuk semua pihak agar berpikir matang sebelum bertindak. Sampai saat ini penyebab kericuhan masih terus didalami oleh pihak-pihak terkait.

Sebelumnya Biro Kemahasiswaan USK sudah berupaya melakukan mediasi untuk menyelesaikan permasalahan ini. Di antaranya dengan mengajak kedua belah pihak duduk bersama. Namun upaya mediasi ini belum berhasil dan tanpa diduga terjadi penyerangan seperti ini.

“Maka kita mengharapkan agar semua pihak menahan diri dan tidak terprovokasi,” ujar Mustanir.

Reporter: Riska, Fadhil

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.