POPULARITAS.COM – Angin dari Selat Malaka datang membawa bau garam dan lumut basah ketika langkah pertama menyentuh halaman Benteng Indra Patra. Tembok kapur abu-abu kecokelatan menjulang di tepi pantai Gampong Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar. Permukaannya kasar dan dingin di telapak tangan. Ombak memecah tak jauh dari kaki benteng dengan suara yang datang berulang, seperti menghitung waktu.
Di sinilah jalur wisata sejarah pesisir Krueng Raya dimulai. Jaraknya sekitar 20 kilometer di timur laut Banda Aceh. Jalurnya pendek, tapi rentang waktunya panjang. Dalam setengah hari, pengunjung bisa berpindah dari jejak kerajaan Hindu abad ketujuh, ke benteng pertahanan Kesultanan Aceh Darussalam, lalu ke pusara seorang perempuan yang memimpin armada laut di zamannya.
Indra Patra, Benteng yang Lebih Tua dari Kesultanan
Indra Patra bukan satu bangunan, melainkan gugusan benteng. Struktur tertuanya diyakini dibangun pada abad ke-7 oleh Kerajaan Lamuri, kerajaan bercorak Hindu yang lebih dulu berdiri di ujung utara Sumatra sebelum Islam berkembang di Aceh.

Benteng utamanya berukuran sekitar 70 x 70 meter. Benteng ini diperkuat pada awal abad ke-17 di masa Sultan Iskandar Muda untuk membendung armada Portugis yang kala itu berebut pengaruh di Selat Malaka. Temboknya tersusun dari batu kapur. Uji material menunjukkan kandungan kalsiumnya tinggi, salah satu alasan dinding ini masih tegak setelah berabad-abad diterpa angin laut.
Di bagian dalam benteng utama terdapat struktur berkubah. Saat siang terik, bayang-bayangnya memberi teduh. Saat sore, cahaya matahari yang rendah membuat batu-batu kapur itu tampak keemasan. Satu benteng lain di kompleks ini kondisinya sudah rusak, menjadi pengingat bahwa waktu tidak berhenti bekerja.
Naik ke Inong Balee, Markas Para Janda Pejuang
Dari Ladong, perjalanan berlanjut ke Gampong Lamreh. Jalan setapak menanjak ke sebuah bukit di tepi Teluk Krueng Raya. Napas mulai berat, ilalang menggesek betis, dan aroma tanah kering bercampur angin laut. Di ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut, sisa Benteng Inong Balee menunggu.
Benteng ini dibangun sekitar 1599 oleh Laksamana Keumalahayati untuk pasukan Inong Balee. Dalam bahasa Aceh, inong berarti perempuan dan balee berarti janda. Pasukan ini dibentuk dari para janda prajurit yang suaminya gugur di medan perang, termasuk Malahayati sendiri, yang kehilangan suaminya, Laksamana Tuanku Mahmuddin. Sejumlah sumber, di antaranya Kompas.com yang dikutip Good News From Indonesia, menyebut kekuatan pasukan ini mencapai sekitar 2.000 orang.

Menurut perkiraan Balai Arkeologi Medan, denah benteng berbentuk persegi panjang sekitar 60 x 40 meter. Tembok batunya setebal kurang lebih 2 meter dan setinggi 2,5 meter, dengan lubang-lubang setengah lingkaran yang menghadap teluk. Dari celah itu, para penjaga dulu mengintai kapal yang masuk ke pelabuhan kerajaan.
Kini yang tersisa hanya sebagian tembok barat dengan empat lubang intai, potongan tembok utara, dan fondasi di sisi timur. Namun pemandangannya tetap menebus lelah pendakian. Teluk Krueng Raya terbentang biru kehijauan, Pelabuhan Malahayati tampak di kejauhan, dan perahu-perahu nelayan bergerak pelan seperti titik-titik di atas kaca.
Malahayati dan Pertempuran 1599
Nama Malahayati tak bisa dipisahkan dari jalur ini. Ia lahir dari keluarga laksamana. Ayahnya, Laksamana Mahmud Syah, dan kakeknya, Laksamana Muhammad Said Syah, sama-sama perwira laut Kesultanan Aceh. Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil kemudian mengangkatnya menjadi laksamana.
Riwayat yang paling sering diceritakan terjadi pada 11 September 1599. Armada Belanda di bawah Cornelis de Houtman berlabuh di Aceh. Dalam pertempuran di atas kapal, de Houtman tewas, dan banyak sumber menyebut Malahayati sendiri yang menikamnya. Sejarawan mencatat bahwa rincian duel itu sebagian besar bersumber dari tradisi dan catatan yang muncul belakangan. Meski begitu, kehadiran seorang laksamana perempuan di Aceh tercatat dalam laporan pelaut Inggris, John Davis, yang ikut dalam pelayaran tersebut.
Negara mengakui perannya. Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Malahayati pada November 2017. Namanya kini juga melekat pada pelabuhan di Krueng Raya dan kapal perang TNI AL, KRI Malahayati.
Hening di Lereng Bukit Kota Dalam
Perhentian terakhir adalah makam Malahayati di lereng Bukit Kota Dalam, Lamreh, sekitar 34 kilometer dari pusat Banda Aceh. Suasananya kontras dengan kisah heroik yang melekat pada namanya: sunyi, teduh, dan hanya diisi kicau burung serta desau angin di pepohonan.
Peziarah biasanya melepas alas kaki, menunduk sejenak, lalu membaca doa. Di sini perjalanan terasa utuh, dari benteng yang dibangun untuk berperang hingga pusara perempuan yang memimpin perang itu.
Benteng yang Menunggu Diselamatkan

Kondisi Benteng Inong Balee kini rapuh. Pada Februari 2024, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh melakukan studi kelayakan teknis untuk pemugaran. Menurut ANTARA, sisa struktur seluas sekitar 2.704 meter persegi itu mengalami kerusakan, terutama di sisi barat yang menghadap laut. Tebing penyangganya pun sangat tipis.
Kepala BPK Wilayah I Aceh, Piet Rusdi, menegaskan bahwa pemugaran harus melalui kajian matang. “Tidak bisa sembarangan,” ujarnya, seperti dikutip ANTARA. Prioritas awal adalah menyelamatkan sisi barat, dengan rencana melibatkan Dinas PUPR Aceh untuk membangun struktur pengaman tebing.
Tips Berkunjung
- Rute: Dari Banda Aceh ke arah Krueng Raya, sekitar 45–60 menit berkendara. Ketiga titik berdekatan dan bisa ditempuh dalam setengah hari.
- Waktu terbaik: Pagi hari sebelum terik, atau sore menjelang matahari terbenam untuk cahaya terbaik di Indra Patra dan pemandangan teluk dari Inong Balee.
- Bawa: Air minum, topi, dan alas kaki yang nyaman untuk mendaki ke Inong Balee.
- Etika: Jangan memanjat atau mencabut batu benteng, terutama di Inong Balee yang tebingnya rawan. Berpakaian sopan saat berziarah ke makam.
- Lanjutkan perjalanan: Pantai Lampuuk atau Pantai Ujong Batee bisa jadi tujuan berikutnya. Kuliner ikan bakar khas pesisir Krueng Raya juga mudah ditemukan.






Leave a comment