POPULARITAS.COM – Desa Sekumur di Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang sudah hilang pascabanjir bandang akhir November 2026. Warga kampung itu yang selamat kini mengaku membutuhkan benih palawija serta pakaian muslim agar dapat kembali beraktivitas dan beribadah menyambut bulan suci Ramadan 2026.
Datok Penghulu atau Kepala Desa Sekumur Sofyan Iskandar mengatakan seluruh warga desanya membutuhkan benih palawija dan padi agar dapat kembali bercocok tanam, mengingat kebun kelapa sawit dan karet milik mereka sudah rusak total akibat banjir besar.
“Harapan kami kepada pemerintah untuk bisa membantu desa kami, masyarakat kami dengan bibit palawija biar bisa masyarakat kami bercocok tanam seperti kangkung, bibit bayam, bibit padi, biar masyarakat kami ada berkegiatan,” kata Sofyan dikutip dari Antara, Minggu (25/1/2026).
Ia menegaskan masyarakat Sekumur tidak ingin terus bergantung pada bantuan, melainkan berupaya bangkit melalui kerja dan kemandirian agar kehidupan perlahan pulih setelah desa mereka terdampak parah banjir.
“Karena kami yakin dan percaya tidak selamanya kami masyarakat Sekumur bisa bergantung dengan tangan di bawah,” ucapnya.
“Jadi kalaupun kami dikasih bibit palawija setidaknya kami masyarakat Sekumur bisa berkegiatan cari keringat. Kalau tidak kami yang sudah pasti pagi keluar dari tenda (pengungsi) pasti merenung, tidak tahu kegiatan apa pun,” tambahnya.
Kebutuhan mendesak lainnya, adalah pakaian muslim untuk ibadah, karena seluruh warga kehilangan harta benda. Mereka berharap dapat menyambut Ramadan dengan layak meski hidup serba terbatas di tengah kondisi darurat pascabanjir.
“Mungkin orang bertanya tentang Kampung Sekumur, apa yang dibutuhkan, kami masyarakat Sekumur setidaknya kami menyambut bulan suci Ramadan ini kami butuh baju muslim untuk kami beribadah. Kalau sarung insyaallah kami sudah mencukupi tapi baju Muslim untuk beribadah masih kurang,” ucapnya.

Zona anak di Pengungsian Aceh Tamiang
Desa Sekumur dinyatakan sebagai kampung yang hilang setelah banjir besar menghanyutkan hampir seluruh permukiman, menyisakan delapan rumah rusak parah dari 276 kepala keluarga (KK) dengan 1.232 jiwa warga terdampak.
Sofyan menyebut seluruh warga terdampak dan rumah hanyut dibawa arus, sementara masyarakat kini bertahan di tenda pengungsian dengan logistik mencukupi, namun tanpa aktivitas ekonomi harian sama sekali.
“Masyarakat memang saat ini tergantung dengan bantuan karena semua pertanian masyarakat habis. Rata-rata di sini bertani sawit dan karet. Kebun karet dan kebun sawit semuanya sudah habis, 98% habis dibawa banjir,” bebernya.
Pembersihan pascabanjir mulai dilakukan dengan dukungan ekskavator Kementerian Pekerjaan Umum dan BNPB, membuka akses jalan desa, membersihkan lumpur, serta bangunan vital seperti masjid, sekolah, serta puskesmas pembantu yang rusak berat dan fasilitas lainnya.
“Untuk awal yang sudah kita lihat sudah mulai masuk ekskavator dari Kementerian PU dan BNPB sudah mulai masuk sekitar lima unit sekarang. Mungkin akan disusul alat berat capit begitu tiga unit,” ucapnya.
Selain itu, ia menuturkan masjid menjadi prioritas utama dibersihkan warga agar shalat Jumat kembali terlaksana, mengingat seluruh masyarakat Sekumur beragama Islam dan menjunjung kewajiban ibadah meski lumpur dan fasilitas rusak pascabanjir.
Untuk jangka panjang, pemerintah desa berharap pembangunan hunian sementara segera direalisasikan agar warga tidak menjalani Ramadan di tenda.
Amhar (50), warga Desa Sekumur menceritakan detik-detik awal banjir saat air mulai naik ke rumah panggung miliknya. Ia sempat menyelamatkan barang ke loteng sebelum membawa istri dan anak mengungsi.
Setelah memastikan keluarga aman di kebun sawit yang lebih tinggi, Amhar kembali ke rumah. Namun, air sudah memenuhi bangunan sehingga ia terpaksa kembali ke lokasi pengungsian bersama warga lain.
Saat mengungsi ke perbukitan, Amhar hanya membawa barang-barang penting. Kelambu menjadi prioritas utama untuk melindungi keluarga dari nyamuk, disusul kompor dan beras sebagai kebutuhan dasar bertahan hidup.
Beberapa hari kemudian, Amhar turun kembali ke lokasi rumahnya. Ia membangun atap sederhana dari sisa material agar bisa kembali menempati lahan tersebut sambil menunggu bantuan datang.
Amhar mengungkapkan rumahnya rusak total dan hanyut diterjang banjir. Menjelang Ramadan, ia berharap listrik segera masuk ke Desa Sekumur agar warga dapat menjalani aktivitas dan ibadah dengan lebih layak.









Leave a comment