Meraup cuan lewat lato-lato

POPULARITAS.COM – Tren permainan anak lato-lato telah jadi fenomena tersendiri ditanah air. Jenis mainan yang bentuknya dua bola padat, dan di gantung dengan seutas tali itu, kian populer, dan ‘virus’nya telah jangkiti provinsi ujung barat Sumatra ini.

Demam permainan itu, pedagang ikut kecipratan rezeki. Hampir seluruh toko di kota ini, saat ini menjual lato-lato dengan berbagai jenis, dan harga.

Muliadi, salah satu pedagang di di Pasar Aceh, kepada popularitas.com, Rabu (11/1/2023) mengaku setiap harinya bisa raup cuan jutaan rupiah dengan menjual permainan itu. “Sehari bisa laku 50 lusin,” ujarnya.

Tren permainan lato-lato, tidak hanya jadi dominasi anak, kini remaja, orangtua, dan bahkan para pejabat publik ditanah air menjadikan mainan itu sebagai ekpresi kegembiraan, dan uji ketangkasan.

Tidak mudah memang untuk bisa memainkan lato-lato, butuh latihan, dan juga kecepatan tangan guna memastikan permainan dapat seperti yang diharapkan.

Muliadi melanjutkan kembali, lato-lato yang dijual di tokonya terdapat beberapa varian, dengan harga paling murah Rp15 ribu. “Sehari bisa laku Rp1 jutaan lah,” ungkapnya.

Ia sendiri, menjual lato-lato sebab ikut tren, dan ramainya minta masyarakat membeli mainan itu. Namun kini, permintaan jauh berkurang dibandingkan beberapa waktu lalu. “Omset penjualan sudah menurun sekarang,” sebutnya.

Penurunan omset itu, katanya kemudian, diantaranya kepopuleran permaianan ini sudah berkurang, kemudian musim liburan anak-anak sekolah juga sudah usai. “Omset penjualan juga turun 60 persen dibandingkan sebelumnya,” paparnya.

Media sosial ikut andil mempopulerkan permainan lato-lato. Maka tak heran, kini hampir di semua platform medsos, ramai Pengguna yang memposting foto atau video saat mereka memainkan lato-lato dengan tangkas.

Mukhlis, pedagang lato-lato di Pasar Aceh, Banda Aceh. FOTO : popularitas.com/Riska Zulfira

Mukhlis pedagang lainnya, juga merasakan rezeki dari jualan lato-lato. Pria yang membuka toko di Pasar Lambaro, Aceh Besar itu, mengaku setiap hari pendapatannya mencapai Rp900 ribu dari menjual lato-lato. “Iya Allhamdulillah, kecipratan rezeki dari demam lato-lato,” ujarnya.

Ia juga mengakui, saat ini trend permainan lato-lato mulai menurun. Dia menilai ada konspirasi jelek yang dibangun lewat pemberitaan bahwa lato-lato berbahaya bagi anak, dan itu berpangaruh terhadap minat orangtua beli untuk anaknya.

“Kalau pendapat saya, inikan semua tergantung orantua. Sepanjang anak bermain di awasi ya tidak masalah,” terangnya.

Pihak yang paling merasakan dampak permainan ini adalah orangtua, sebab bagi ayah atau ibu, sulit tidak menuruti kemauan anak ketika minta beli lato-lato.

Suhaimi contohnya, ayah yang punya anak berusia tiga tahun ini, mengaku jika dirinya membeli lato-lato untuk buah hati kesayangannya. “Ya, saya lihat ada bagusnya. Jadi dibelikan untuk anak,” katanya.

Begitupun, Suhaimi tetap melakukan pengawasan yang ketat terhadap anaknya yang memainkan lato-lato. Sebab baginya, mengawasi saat bermain penting agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sementara Munira lebih memilih tidak menuruti kemauan anaknya. Baginya, keselamatan buah hatinya lebih penting daripada sekedar mengikuti trend.

Memilih tidak ikuti tren lato-lato bagi Munira, karna Ia membaca berita, dan juga banyak beredar video tentang bahaya bermain permainan itu bagi anak dibawah umur. “Saya baca, bahaya, apalagi jika kena mata,” terangnya.

 

Editor : Hendro Saky

Comments
Loading...