Bumbu kemasan Zaymar usung konsep praktis dan higienis

POPULARITAS.COM – Ditengah maraknya ragam merek bumbu masakan pabrikan besar, di Aceh tumbuh banyak Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang menawarkan konsep serupa, namun dengan menawarkan jenis dan racikan khas daerah. Salah satunya adalah Bumbu Zaymar milik Faisal dan Inayatillah.

Merintis usahanya sejak dua tahun silam, kini merek Bumbu Zaymar telah melahirkan berbagai inovasi baru dengan menawarkan berbagai jenis bumbu masakan cepat saji, seperti Rumbi Aceh, Sie Reboh, dan bahkan Briyani Nusantara.

Sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang, Aceh terkenal dengan berbagai jenis masakan yang rasanya telah mendunia. Secara tradisi, dalam berbagai peringatan hari besar Islam, seperti Maulid, dan lebaran, masyarakat di daerah ini selalu menyajikan berbagai makanan khas, seperti Bu Minyeuk, kuah beulangong, dan jenis kuliner lainnya.

“Untuk bumbu Zaymar, suami mengerjakan bagian produksi, dan pemasaran saya lakukan sendiri,” terang Inayatillah memulai percakapannya dengan popularitas.com beberapa waktu lalu.

Saat ini, kata Inayatillah lagi merek Bumbu Zaymar telah mendapatkan sertifikat merek Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementrian Hukum dan HAM RI pada 2020 silam, sebagai Merek bumbu masakan.

Dulu, terangnya lagi, di awal memulai usaha, dirinya hanya memproduksi bumbu nasi minyak (bu minyeuk) dan bawang goreng. Kedua jenis produk ini merupakan lanjutan dari usaha yang telah berjalan sejak 2017 bersama suami dan keponakannya.

Inayatillah awalnya belajar meracik bumbu masakan Aceh dari ibunya. Nasi minyak ini bahkan menjadi menu utama saat lebaran Idulfitri maupun Iduladha. Inayatillah kemudian berpikir bagaimana caranya nasi minyak ini tetap abadi sampai kapan pun, bukan hanya saat lebaran.

Dari itu lah, Inayatillah kemudian mencoba membuat bumbu nasi minyak, lalu dikemas agar bisa disimpan dalam waktu yang lumayan lama. Sehingga, bumbu nasi minyak ini bisa dipasarkan dan dinikmati oleh orang lain tanpa batasan.

“Jadi nasi minyak ini bukan hanya untuk orang di zaman dahulu, mama muda juga bisa menikmati nasi yang orang zaman buat kaya rempah itu,” ujar Inayatillah.

Pada akhir 2019, Innayatillah dan keponakan melalukan ekspansi dan proses produksi dilakukan secara terpisah. Ia dan suami kemudian sepakat menjadikan Zaymar sebagai merek. Keduanya memulai usaha tersebut dengan semangat baru.

“Dengan merek baru, semangat baru, kreativitas baru, Alhamdulillah dari produk awal nasi minyak dan bawang goreng, kita coba racik lagi, yaitu bumbu kanji rumbi,” ujar Inayatillah.

Usai meracik bumbu kanji rumbi, Zaymar kemudian meracik bumbu yang levelnya nasional, yakni bumbu nasi briyani. Peluncuran produk bumbu ini dilakukan setelah melakukan berbagai pertimbangan dan kajian, sehingga rasanya pas dan diterima pasaran.

“Sebelum diproduksi, kita coba beli punya orang dulu, merek dari luar, kita coba rasa ternyata aromanya terlalu kuat. Bagi saya yang orang Aceh Besar, tidak terlalu suka dengan rasa yang terlalu kuat. Akhirnya coba coba pakai rempah-rempah dari pasar kita sendiri, lahir lah nasi briyani rasa nusantara, bukan rasa India atau Pakistan lagi,” ucap Inayatillah.

Keempat jenis produk itu mendapat sambutan baik di pasaran, Zaymar kemudian memproduksi bumbu sie reuboh. Bumbu untuk masakan khas Aceh Besar ini saat itu belum ada yang produksi dalam kondisi kering. 

“Bumbu si reuboh yang ada saat itu dalam kondisi basah. Ras khas cuka nira itu beda, itu cuka nira Montasik, beda dengan cuka khas itu beda. Akhirnya kita berpikir, kalau bisa bumbu-bumbu kita itu diracik tanpa tambahan bumbu lainnya,” katanya.

Selanjutnya, Innayatillah memproduksi bumbu kuah beulangong. Semua bahan-bahan dikeringkan dan diolah, lalu dikemas dalam kemasan alumunium voil. Innayatillah memilih jenis kemasan ini agar isi kemasan tetap terjaga, meski disimpan 1 hingga 2 tahun.

Sukses di bumbu kuah beulangong, Zaymar kemudian meluncurkan bumbu ayam masak Aceh. Bumbu jenis ini juga laris manis di pasaran. Berikutnya, Zaymar juga memproduksi bumbu mie Aceh.

“InsyaAllah kita akan produksi beberapa produk lain. Kemarin sudah ada permintaan masak putih, mungkin produk ini yang akan kita coba launching ke depan,” tutur Zaymar.

Kiat Eksis Hingga Beromzet Puluhan Juta

Setelah sempat terpuruk di awal-awal berdiri tahun 2020, Zaymar kini sedang eksis dengan bumbu masakan yang mereka tawarkan. Setiap bulan, Zaymar meraih omzet sekitar Rp25 juta.

Kehadiran Zaymar juga memberi efek positif bagi warga sekitar di mana tempat usaha ini diproduksi, di kawasan Beurawe, Kota Banda Aceh. Ini dikarenakan proses produksi melibatkan beberapa warga sekitar.

“Untuk bawang goreng misalnya, tetangga tugasnya kupas-kupas bawang, jadi usaha kita bisa mempekerjakan orang lain, ini yang membuat saya terus semangat dan termotivasi,” ucap ibu tiga anak ini.

Produk Zaymar bisa didapatkan di tempat usahanya di Jalan Cut Makmum No. 7, Beurawe, Kec. Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Produk ini juga bisa dibeli di toko-toko, warung sayur dan swalayan di wilayah Banda Aceh.

Zaymar bumbu juga hadir di marketplace, seperti Shoopee dan Tokopedia. Selain itu, Zaymar juga dapat dibeli dengan menghubungi Instagram @zaymarbumbu. Adapun kisaran harga yang ditawarkan setiap produk mulai Rp5 ribu hingga Rp30 ribu, tergantung variannya.

Inayatillah menjelaskan, Zaymar eksis tak terlepas dari peran saudara, teman dan para konsumen, karena mereka melakukan promosi produk tersebut dari mulut ke mulut, hingga tembus ke Australia.

“Beberapa teman yang kuliah S3 ke luar negeri pasti bawa bumbu ini pas ke sana, nanti kalau ada temannya yang berangkat pasti dipesan lagi, karena bumbu ini tahan sampai 2 tahun,” ucap Inayatillah.

Inayatillah menyadari, promosi mulut ke mulut tetap optimal, meskipun sekarang masanya serba teknologi. Optimalisasi ini juga harus disokong dengan kualitas produk yang ditawarkan, baik rasa, khas dan kemasan.

“Alhamdulillah dari mulut ke mulut ini bisa jalan, walaupun kita belum pakai selebgram. Karena menurut saya yang paling efektif itu kualitas produknya dulu. Kalau masalah promosi nanti bisa sendiri,” ujarnya.

Keunggulan Zaymar

Zaymar hadir dengan mengusung konsep higenis, praktis dan komplit. Ketiga hal ini menjadi misi Zaymar dalam mempromosikan Aceh melalui bumbu kuliner tradisional khas daerah di berbagai penjuru Nusantara.

Zaymar hadir dengan beberapa keunggulan, di antaranya proses produksi dilakukan dengan memperhatikan kesehatan. Sebelum diproduksi, seluruh bahan-bahan yang akan dijadikan sebagai bumbu dibersihkan terlebih dulu.

“Jadi ada proses penyucian di situ.  Jadi sekmentasi yang saya sasar itu juga kalangan yang peduli akan higenis tadi. Saya tidak menengas atas saja. Yang kelas bawah karena harga terjangkau, mereka juga beli,” ujarnya.

Sementara praktis dan komplit adalah dua hal yang menyatu. Kedua hal ini pula membuah ibu rumah tangga, pecinta kuliner tidak kerepotan saat hendak memasak masakan khas Aceh.

“Dia sudah lengkap satu. Tidak perlu nampak bumbu apapun, kayak si reuboh, beli daging, tuangin garam, langsung cemplung,” kata Inayatillah.

Di usianya yang ketiga tahun, beberapa produk Zaymar telah tersertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sementara beberapa lainnya dalam proses pengajuan. “Ada beberapa yang sudah tersertifikasi halal, mungkin belum semua, karena ada yang masih proses pengajuan,” ucap Inayatillah

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.